Image

Pak Kas 2.01

16-08-10-19-34-14-582_deco
Pemberian konsumsi makan siang yang telah ditanda tangani oleh Pak Kas sendiri.
Advertisements
Celoteh 30 menit

Celoteh 30 menit

Teruntuk dua-puluh-lima persen hatiku,

PicsArt_07-07-03.01.25.jpg

Tepat pukul 2 pagi ini, aku menulis lagi. Dengan tema serupa seperti biasanya, rindu tertahan untukmu. Entah sampai kapan tema ini akan berganti, aku belum bosan sama sekali. Rutinitas ku masih seputar dirimu. Entah apapun itu pasti tak jauh-jauh darimu. Semuanya benar-benar tentang kamu, dua-puluh-lima persen hatiku.

Jujur sampai saat ini aku menanti hadirmu dengan setengah cemas dan setengah bahagia. Aku cemas jikalau kamu hadir dengan perangai yang berbeda. Tapi aku bahagia setidaknya tenggang waktu ku menunggu mu segera berakhir, sehingga tanpa sengaja senyum bodoh itu terukir di wajahku.

Inilah resiko mencintai dalam diam. Dikala rindu tak mampu ku sampaikan. Dikala kesal hanya mampu ku pendam. Dikala sakit harus ku tanggung sendiri. Itulah konsekuensi nya dan aku harus terbiasa. Menerima segalanya dengan hati yang ikhlas.

“Jika tak sanggup, maka ungkapkan saja!”

Stressful.

Stressful.

If you wanted me, you would just say so.

Why can’t you hold me in the street?

Why can’t you say something that i’m yours?

Why can’t we act like others?

Why can’t we say that we’re in love?

I wish that it could be like that

“I hate you, i love you

I hate that i love you

Don’t want to but i can’t put

 Nobody else above you”

(I hate u, i love u – Gnash feat Olivia O’Brien)

 

Masih Dipertanyakan

Masih Dipertanyakan

bonjour,

Seseorang pernah mengingatkan ku agar tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu, termasuk mengagumi mu. Awal sederhana yang harusnya kupatuhi agar tak berlanjut ke tingkat selanjutnya, menyukaimu. Mungkin saat jari-jari ini mengetikan rantaian kata, aku sedang dalam perjalanan menuju ke tingkat yang selanjutnya. Atau mungkin saja sebenarnya sudah sampai sambil harap-harap cemas dengan kelanjutannya, aku tak tahu.

Jika kita ulas kembali segala hal menyangkut aku dan kamu, bukan salahku sepenuhnya perasaan itu muncul. Aku tak pernah mengundangnya, demi tuhan tak sekalipun terlintas untuk menyukaimu. “Biarkan seperti air mengalir”, kalimat itu bisa jadi pembelaan yang kusampaikan pada akalku, akal seseorang yang tergolong keras kepala yang akhirnya dibuat bimbang.

Tapi harapan-harapan itu muncul dengan kau sebagai perantaranya. Percakapan yang terkesan hippie, menjorok ke arah dimana tak seharusnya kita berjalan dengan diiringi tingkah laku yang sangat dewasa membuat akalku berani berspekulasi sendiri bahkan mengambil keputusan tanpa bertanya pada keadaan.

Jujur aku tak tahu harus berbuat apa karena itulah postingan ini ku buat. Agar gerakan badan dan akal serta hati berjalan selaras kembali. Aku bingung, galau kalau kata anak muda sekarang. Dilema akan sesuatu yang sebenarnya ku ada-ada kan. Hingga ingin sekali kususun alur cerita aku dan kamu kembali. Mulai dari perkenalan pertama kali, saat mendapat perhatianmu, kegiatan bersama kita hingga ujung dari drama ini. Ingin kutentukan akhir dari drama ini, happy ending ataukah sad ending. Kamu pilih mana? Aku sudah biasa sakit, pilihan apapun tak akan berpengaruh besar untukku.

Tapi sekali lagi kuingatkan, kau telah menanam bibit itu sengaja ataupun tidak itulah kenyataannya. Harapan itu muncul dari tingkah laku kita, bukan sok menghubung-hubungkan. Itulah kenyataannya. Sekarang aku tanya, kita harus apa? Jika diteruskan, mau kah kau bertanggung jawab? Jika berakhir, mungkinkah pertemanan kita masih seperti ini?

Rumah Asing

Rumah Asing

Bukan hal baru bagiku masuk ke dalamnya. Untuk sekedar berkunjung untuk melepas penat dan bertamu demi sapaan hangat. Esok harinya datang lagi. Masih berkunjung untuk melepas penat dan bertemu demi sapaan hangat. Terus berulang setiap hari. Hingga datang ke rumah itu menjadi bagian hidupku, rutinitas yang tiada pernah terlewatkan.

Tapi, suatu hari aku merasakan hal yang berbeda. Tiada lagi hasrat untuk mengunjunginya. Bahkan sekedar sapa pun tak mampu lagi ku lakukan. Entah mengapa, hanya saja hatiku berkata tidak. Rasanya tak lagi seirama. Rumah itu bukan rumahku yang dulu.

Asing bukan rumahku. Bukan lagi jadi tempat yang biasa kupijaki. Bukan lagi tempat singgah pelipur lara. Bukan pula tempat berbagi cerita. Asing bukan main perasaanku. Sapaannya kini tak sehangat mentari. Hiburannya juga tak lagi tentramkan jiwa dan hawanya pun sudah sedingin kutub utara. Meskipun aku berada di dalamnya. Hatiku berada di luar sana. Entah berpetulang mencari tempat berlabuh lainnya.

Mungkin sudah waktunya untuk pindah. Mencari lagi lingkungan hangat yang ku rindukan. Menemukan tempat yang selaras dengan jiwa dan mampu mendengar segala keluh kesah ini.

Tulisan ini ku ketik agar kau tahu, rumah itu tak lagi sama. Mungkinkah roh jahat telah menguasainya? Atau sekedar rasa tak ingin memiliki lagi? Kuharap kita sama-sama tahu jawabannya dan saling memahami mengapa akhirnya rumah itu tak lagi sempat aku kunjungi.

Menunggu Palu

Menunggu Palu

Nyaman terlanjur menyelimuti
Terhirup bersama udara segar sore hari
Menunggu habisnya waktu
Yang tak pernah bisa berdamai dengan kenyataan

Bolehkah aku masih berharap?
Ketika detik itu tak lagi berpihak
Bolehkah aku setia menunggu?
Saat sang penguasa bahkan tak mengijinkan
Bolehkah keinginan itu tetap tersimpan?
Meski akal sukar menerimanya

Akulah yang berkuasa melukiskan garis
Dan menunggu-Nya tentukan arah
Menunggu ketok palu keputusan
Sambil terduduk dalam tumpukan keraguan

Rutinitas Harian

Rutinitas Harian

Teruntuk dua puluh lima persen di pojok hati,

Tak ku sangkal akan rinduku
Tak terabaikan segala tingkah lakumu
Sekalipun ratusan kali kubiarkan kau mati
Tetap saja penasaran ini tak dapat pergi

Bukan maksud bersembunyi dalam bayangan
Mengikuti kemanapun langkahmu berpijak
Bukan juga memendam rasa secara sepihak
Hanya saja kau sudah menjadi bagian dalam rutinitas harian

Memeluk Bayangan

Memeluk Bayangan

“Lembaran kertas dan pena itu pernah menjadi saksi, dimana kita bersenda gurau dan bertukar pikiran. Sampai kusadari, itu hanya pekerjaan semu.”

Pernahkah kamu melihat kata “aku” dan “kau” berdekatan dalam kamus? Setidaknya pernahkah mereka terletak pada halaman, tidak bahkan lembar yang sama?

Itulah takdirnya. “Aku” dan “kau” meski tercipta dari elemen penyusun yang sama, tidak pernah diciptakan saling berdampingan. Tak ada sejarah “aku” dan “kau” disatukan menjadi kita.

Aku dan kau hanya sepasang awan yang diarak serabut angin untuk sekedar mengenal pertemuan. Sekedar sapa tak bermakna yang disadarkan hujan malam ini.
Kau pernah bilang ingin menjadi sahabatku. Kata-kata klise penggembira hati saat mendung hari itu. Saat kau buat aku gusar akan segala tingkah lakumu. Saat tidak ada logika yang menyertai perbuatan kita.
Sempat aku kira aku menemukannya, sahabat yang katanya siap mendengar keluh kesahku. Egois memang, aku yang mau dan hanya aku antara “aku” dan “kau”. Sahabat adalah yang peduli dengan keadaanku.

Omong kosong, itu dongeng! Di saat aku memberi selalu akan ada harapan untuk diberi. Dunia nyata lebih kejam dari ibu tiri bahkan ibukota pun bukan tandingannya. Dinginnya hotel prodeo tak sedingin hatimu. Benarkan? Bodohnya aku membuang waktu. Berbagi segalanya yang mungkin masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Sampah.

Untuk hari ini, akhirnya tersadar. Entah kerasukan apa akhirnya aku mengerti yang kau inginkan, enyah. Kenyataan benar-benar membunuh impian. Membuat aku tersadar bahwa “aku” dan “kau” hanya dua insan yang dipaksa mengenal, dituntut saling kenal dan diharuskan berkenalan.
Tapi aku tak bisa, aku terlanjur suka pada setiap kegemaranmu. Meski tak sepandai dan segenius dirimu, bisakah aku tetap berada disana tanpa bayanganmu lagi? karena sangatlah melelahkan jika tiap saat aku harus memeluk bayangan.
Setidaknya, aku harus bersikap bijak. Layaknya orang bijak, seharusnya tiap kejadian kuambil hikmahnya. “Kata sahabat tak cukup hanya diucapkan tanpa pengorbanan.”

Problematika Budi Pekerti

Problematika Budi Pekerti

“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin.”
..

Benar kata Pram, sapaan Pramoedya Ananta Toer salah satu novelis ternama Indonesia, dalam novelnya yang berjudul Gadis Pantai. Novel yang diterbitkan sekitar tahun 80an itu seakan telah meramalkan hari ini.

Dewasa ini, jarang sekali anak muda yang mengenal budi pekerti. Hal ini ditandai dengan semakin tingginya kasus amoral seperti korupsi, narkoba hingga tawuran yang mengundang keprihatinan. Lantas, siapa yang salah? Siapakah yang harus bertanggung jawab?

Tujuan dari Sistem Pendidikan Indonesia sudah cukup jelas dijabarkan dalam Undang-Undang No 2/89 pada Bab II pasal 4 yaitu, mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Maksud manusia seutuhnya adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berbudi Pekerti luhur. Di samping itu, juga memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani , kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut seharusnya cukup untuk melahirkan generasi yang dilandasi akhlak dan budi pekerti luhur.

Jadi, salahkah sistem pendidikan di Indonesia selama ini? Padahal sejak SD sampai SMA sudah diberikan mata pelajaran PKn, bahkan ada yang sampai jenjang perguruan tinggi masih mendapatkan mata kuliah tersebut.

Bisakah kita menyalahkan globalisasi? Dengan adanya globalisasi sekarang ini, arus informasi dari mancanegara bagai tak terbatas sehingga budaya luar yang negatif mudah terserap tanpa ada filter yang cukup kuat. Banyak gaya hidup modern yang tidak didasari akhlak/budi pekerti dan tidak sesuai dengan budi pekerti bangsa kita sudah banyak ditiru, bahkan menjadi trend dikalangan remaja. Perilaku negatif seperti tawuran contohnya yang sangat jelas menggambarkan bahwa premanisme ada dimana-mana. Emosi meluap-luap, cepat marah dan tersinggung, ingin menang sendiri bahkan sudah menjadi hal yang lumrah. Contoh lainnya lagi adalah pelecehan seksual yang banyak dilakukan oleh anak sekolah di bawah umur yang sudah dianggap biasa di kalangan masyarakat.

Sedih bukan main, kurangnya kesadaran kita sendiri yang menyebabkan rusaknya moral anak bangsa. Padahal, jika generasi kini rusak, bagaimana dengan pemimpin bangsa di masa mendatang. Bagaimana nasib Indonesia? Entah berapa tahun lagi hotel prodeo sanggup menampung.

Serpihan yang terabaikan

Serpihan yang terabaikan

Screenshot_2016-05-06-20-56-02_1462542993467

Bekasi

Rangkaian 6 huruf yang menggambarkan kota kecil pinggiran Jakarta, tempat rantauan orang-orang kampung mencari nafkah. Berbagai suku bisa kau temukan disini, buangan ibukota katanya. Mirip nusantara kecil dengan pribumi dari berbagai suku bangsa. Itulah tempat dimana aku dibesarkan, setelah terbuang dari kejamnya hiruk pikuk ibukota.
Meskipun kau terletak dipinggiran sana, kau tetap menjadi primadona kami. Buktinya Stasiun Manggarai, tepatnya peron 4 dengan tujuan akhir bekasi ini menjadi saksi bisu bahwa kau adalah idola kami. Tak sama dengan peron jurusan lainnya, peron ini tak pernah sepi pengunjung. Salut! Semakin larut, makin banyak pula sepasang kaki-kaki yang ingin menginjak tanah pinggiran ibukota ini. Harus siap betis tiap kali ingin menemuimu. Memang tak semua setujuan, bekasi. Bukan idola seutuhnya. Tapi saat sampai di Bekasi, ratusan langkah kaki selalu menemani sepasang sepatu ini selalu.

Lucunya negeriku!

Lucunya negeriku!

IMG_20160430_124000_HDR_1462059889356

Hari Sabtu, kanoy diberikan pertunjukan oleh segerombolan orang yang menurut kanoy cukup kreatif!

Lucunya, mereka mengatasnamakan SIGAB untuk meminta-minta uang. Hanya dengan mengenakan topi dan rompi bertuliskan “SIGAB” serta membawa amplop cokelat dan kertas yang ditempeli foto-foto bencana yang dilaminating, mereka memanfaatkan belas kasihan orang lain.

Yang anehnya lagi, mereka hanya menerima uang tunai. Padahal SIGAB yang sesunggunya dapat menerima sumbangan baju layak pakai.

Entah harus tertawa atau justru malu dengan tingkah laku segerombolan orang ini. Atau mungkin harusnya kanoy bangga? Karena ternyata masih ada orang indonesia yang cukup kreatif. Mereka menggunakan konsep baru untuk menarik simpati orang dengan pakaian dan perlengkapan yang mereka kenakan bak sedang pawai mereka berlenggak-lenggok di hamparan toko-toko dekat Bekasi Junction.

Kesalahan yang Sama

Kesalahan yang Sama

Hari ini, masih sama.

Masih sedingin hari kemarin, meski matahari tetap bersinar seperti hari biasa.

Masih tetap turun naik, suhu badan karena ulah virus itu.

Pulang tinggal pulang, tak selama 24 jam lama perjalanannya. Bahkan cukup sepertiga hari kamu sudah sampai. Namun tak semudah saat kamu mengatakannya, tanggung jawabku dipertaruhkan. Harga diriku yang menjadi taruhan. Sedangkan di sisi lain, kesehatanku juga semakin terabaikan.

Semakin kau perparah lagi dengan menghilangnya keberadaanmu. Bila tau begini, seharusnya pelangi itu tak ku biarkan menghilang lagi. Si bunga lili tak ku biarkan layu kembali

Cukup tanya kabar, bisakah?

Sia-sia ku ungkit hari ini, esok pun pasti sama hanya orangnya yang berbeda dengan penyesalan yang serupa.

Sekali Saja.

Sekali Saja.

Bolehkah aku menghubungimu lagi?
Bolehkah aku tetap menyapamu seperti dulu?
Bolehkah perhatian itu ada lagi?

Hujan malam ini berbeda.
Nyanyian alam ini seketika membuatku tersadar. Inikah air mata yang selama ini terpendam entah kemana? Tertutup oleh banyak bunga plastik yang kian rimbun, tapi fiktif belaka.

Dingin kali ini berbeda.
Tidak seperti bulan-bulan sebelumnya yang tetap diselimuti kehangatanmu. Malam ini, tiada kabar yang tertiup angin. Haruskah aku terbiasa? Atau tetap bertanya dan berharap?

Hanya satu pesan yang ku tunggu dan satu pesan yang ku ingin kamu tahu. Bukan kata rindu layaknya remaja yang dimabuk cinta. Bukan juga kalimat “i love you”, yang dulu sempat ingin kukatakan. Cukup apa kabar.

Tanyakan kabarku sekali saja, bisakah?
Atau mungkin, Apa kabar?
Kalimat sederhana itu mungkin bisa jadi obat terampuh malam ini.
Satu pesan yang aku ingin kamu tahu, aku sakit.
Memang sakit yang biasa, tak separah biasanya.
Tak butuh perhatian ekstra dari seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa.

Dari balik tirai kamar seorang yang bisa kau sebut “kakak”, yang selalu ada saat kau butuh meskipun tak terikat pertalian darah.

sekian,

Aku Berguna (?)

Aku Berguna (?)

Pernahkah kamu merasa tidak berguna?

Merasa sedikitpun tidak berarti selama di dunia?

Rabu kemarin, aku pergi berkeliling kampusku. Bukan karena mau, tapi terpaksa. Awalnya setengah hati memang, tapi setelah berjalan cukup jauh aku bahagia. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sekedar “jalan-jalan” kali ini. Sayangnya, kami tidak diperbolehkan membawa handphone. Jadi tidak bisa mendokumentasikannya.

Satu hal yang sangat mengganggu selama perjalanan adalah bau tai kambing. Memang rute yang kami lewati adalah kandang-kandang fakultas peternakan, jadi selama perjalanan bau itulah yang setia mendampingi. Bau yang menurut kita mengganggu. Bau yang sangat dihindari banyak orang. Tapi begitu berarti bagi anak peternakan, “bau uang”! Benar, menurut mereka itu bau uang. Jadi terpikir olehku, sungguh bermanfaatnya makhluk ruminansia ini. Sampai-sampai hasil pembuangannya pun bernilai jual tinggi.

Berpikirlagi? Apakah aku seperti itu? Apakah tubuh ini berguna selama di dunia? Apa saja yang pernah aku perbuat hingga orang menganggap aku ada? Bermanfaatkah aku?

Seketika mendapat pencerahan dari salah satu dosen biologi tercinta, Bapak Windra yang merupakan lulusan SITH ITB jurusan yang sempat aku idam-idamkan, dulu.

“Janganlah bersedih hati kalau kalian merasa tidak berguna di dunia ini, karena ketika kalian mati dan diurai oleh dekomposer, kalian menjadi nutrisi bagi tanaman.”

Agak konyol, tapi benar juga.

Setuju pak!

 

sekian,

Perjalanan Hujan

Perjalanan Hujan

Setelah hujan, pelangi datang

Sempatkan diri kunjungi rumah kecil nan jauh dipelupuk mata

Tanpa tujuan, hingga akhirnya ditinggalkan

Lelah menanti kepastian yang tiada pasti

Kabut datang, gantikan keberadaannya

Berkunjung ke dalam rumah kecil yang tiada bertuan

Bertamu layaknya sang pemilik

Lantas pergi setelah cukup dengan segala perjamuannya

Hujan kembali turun tanpa tahu kapan harus berhenti

Berjuang melawan angin yang bertiup

Berusaha menghapus keberadaan sang kabut

Sampai akhirnya lelah menunggu waktu

Hingga matahari kembali bersinar lagi

Dengan cahayanya ceria menyambut tanah basah

Dengan hangatnya membunuh memori hujan

Sampai buket bunga lili layu dihiraukannya

Tentang kata “Memendam”

Tentang kata “Memendam”

Teruntuk kata “memendam” yang kau permasalahkan,

Memang benar jika aku memendamnya. Tak salah karena memang perasaan yang kupendam. Tapi kesalahan besar jika kau menganggapnya cinta. Kata “cinta” yang tergolong sakral, tak semudah itu kupercayakan kepadamu. Hanya sampai batas penasaran tepatnya si perasaan. Harapannya tak berkembang lagi. Bukan karena putus asa, bukan pula karena keraguan. Memang jalannya yang tak mengarah kepada cinta.

Cukup sekian pembelaan dari hati, yang sempat tak terima.

Image

Sepatah Kata untuk Pelangi

Hai Pelangi!

Screenshot_2016-04-19-15-26-38_1461054436846
19 April 2016

Angin bulan April telah menerpa wajahku. Seketika ia menyadarkan langkahku dengan berbagai pertanyaan,

Apa yang aku lakukan?”

“Masih sama kah perasaanku padamu?”

“Akankah kegagalan itu terulang kembali ?”

Semuanya telah berubah. Genggaman tangannya pun kini tak lagi sama, tak ada hangat yang kurasakan. Akhirnya aku sadari, sudah saatnya aku belajar merelakan. Sulit sudah pasti, ada sedih yang menyertai, ada pula luka yang menyayat hati, tapi ada lega yang tersirat.

Cinta adalah perjuangan dari penyatuan tujuan dua insan manusia. Ketika salah satunya tak lagi merasa sejalan. Saat itulah cinta harus dilepaskan.

Inilah hari terakhirku mencintaimu, pelangi. Mulai besok aku berbeda, kau tak akan pernah melihatku seperti hari kemarin. Tiada lagi tulisan yang kutujukan padamu karena ada yang telah kulupakan, ada pula hati yang telah didamaikan.

Yuk ngulik MS. Access

Yuk ngulik MS. Access

Ms. Access adalah salah satu perangkat lunak yang dapat digunakan untuk mengembangkan basis data.

1

Gambar di atas merupakan tampilan awal Ms. Access 2010.

Langkah-langkah untuk membuat database baru adalah Blank databaseFile NameCreate.

Kemudian, 2

CreateTable untuk membuat tabel baru.

Klik kananDesign View, untuk menamai tabel tersebut.

Kemudian atur sedemikian mungkin sesuai data yang kita butuhkan.

Selanjutnya, buatlah relasi antar tabel dengan Database ToolsRelationships.

Kemudian mulailah input data pada tabel.

11

Untuk membuat Form pengisian, CreateForm Wizard.

Hasilnya akan menjadi seperti ini,

14

Jika dimasukan data yang baru, maka akan secara otomatis tersimpan dalam tabel.

15

Selain itu, di Ms. Access juga bisa membuat report. CreateReport Wizard.

Hasilnya,

18

Kamu juga bisa membuat query atau permintaan untuk mengambil informasi yang tersimpan dalam database. CreateQuery DesignSQL view.

21

Misal, kamu ingin mengambil data mengenai nim dan id_departemen dari tabel Mahasiswa.

22

Hasilnya adalah sebagai berikut,

23

Sekian, terima kasih.

Image

Pelangi di Bulan April

images

Sempat tak terlihat sepanjang mata memandang.

Sempat tak terdengar berita akan keberadaanmu.

Sempat terabaikan oleh hiruk pikuknya dunia.

Sempat sedetikpun tak pernah ada kata kita. Tidak lagi sekelebat bayangmu muncul dalam mimpi. Tidak pernah ada kata pisah yang terucap, semua mengalir mengikuti kemana angin membawanya pergi. Berjalan beriringan dengan waktu. Sungguh kenangan itu seperti menghilang ditelan bumi.

Tapi masih tersimpan dalam diam. Segala tingkahmu yang menggelitik. Wajahmu pun tetap tergambar jelas. Bahkan suara tawamu masih terngiang di telingaku.


Mengapa tak semudah yang lainnya?

Mengapa memori itu masih tetap tersimpan utuh dalam diam?

Bahkan sampai berani muncul kembali saat aku mencoba memanggilnya?


Jawabannya satu, singkat dan padat.

Cinta.

Berani apa aku menyebutnya cinta?

Usia yang belum genap seperlima abad ini masih kurang untuk jadi bahan pertimbangan.

Yang jelas, Kau adalah kumpulan-kumpulan luka yang paling aku cinta. Pembenaran dalam hidup sebagian kuterima dari kesalahan kita. Kau tak terganti. Sejauh apapun langkah itu membawamu pergi, sekeras apapun kita mencoba berhenti, akan selalu kembali. Kau selalu punya tempat khususmu sendiri. Indah dan tak lekang oleh zaman. Sampai lelah mengusik jiwa dan merasa cukup dengan masa pencarian kita. Kau akan kembali lagi. Akan ada masa dimana kembali menyebut kata “kita”. Saat dimana cinta bukan datang untuk mencoba karena langkah sudah sampai pada tujuannya, dan memilih tinggal selamanya.

Seperti hari ini, kau kembali secara tiba-tiba. Muncul dalam kegelapan malam dan menerangi mendungnya hati ini. Aku tersadar dan tak berharap banyak. Kita masih sama muda, masih sama-sama mencari. Saling berdoa agar takdir memberi celah kita bersama sampai saatnya nanti.

Terima kasih atas kedatanganmu kali ini, yang setidaknya memberi warna lagi. Kau datang disaat yang tepat, saat kegundahan itu hinggap. Saat aku dihadapkan dengan beribu masalah yang entah tiada berujung. Ketika yang lain hadir coba mengusik tempat khususmu itu, kau muncul lagi.

Terima kasih untuk kau yang berulang tahun di bulan ini, pelangi.

Menghitung Pajak dengan Excel

Menghitung Pajak dengan Excel

Berhubung saat praktikum penkom yang ke-5 adalah membahas Microsoft Excel, jadi tugas penkom kali ini yaitu menyelesaikan masalah mengenai pajak kendaraan bermotor. Untuk mempersingkat waktu karena tugas ini dibuat D-2 jam, berikut adalah soalnya :

  • Tahun 2005 pajak yang dibebankan kepada A sebesar Rp1.250.000, sedangkan B Rp825.000
  • Setiap tahunnya pajak tersebut bertambah 8% dari tahun sebelumnya untuk A dan 5% untuk B
  • Hitunglah besarnya pajak mulai tahun 2005 sampai dengan tahun 2012

Langkah penyelesaiannya yaitu :

  1. Buka Microsoft Excel dan ketikan data.Capture1
  2. Masukan formula penyelesaiannya untuk menghitung pajak A. Tambahan, agar formulanya tidak berubah maka formula perlu di kunci dengan $ agar tidak berubah-ubah. Kemudian sorot sampai ke kolom tahun 2012.
  3. Setelah itu, masukan formula untuk menghitung pajak B. Sama halnya dengan langkah kedua, formula harus dikunci dan sorot sampai kolom tahun 2012.
  4. Untuk menambah tulisan “Rp” caranya block H6 sampai O7, klik kanan dan pilih format cells kemudian pilih Number lalu Accounting.
  5. Mengucapkan alhamdulillah dan tidak lupa di save.