Sekali Saja.

Sekali Saja.

Bolehkah aku menghubungimu lagi?
Bolehkah aku tetap menyapamu seperti dulu?
Bolehkah perhatian itu ada lagi?

Hujan malam ini berbeda.
Nyanyian alam ini seketika membuatku tersadar. Inikah air mata yang selama ini terpendam entah kemana? Tertutup oleh banyak bunga plastik yang kian rimbun, tapi fiktif belaka.

Dingin kali ini berbeda.
Tidak seperti bulan-bulan sebelumnya yang tetap diselimuti kehangatanmu. Malam ini, tiada kabar yang tertiup angin. Haruskah aku terbiasa? Atau tetap bertanya dan berharap?

Hanya satu pesan yang ku tunggu dan satu pesan yang ku ingin kamu tahu. Bukan kata rindu layaknya remaja yang dimabuk cinta. Bukan juga kalimat “i love you”, yang dulu sempat ingin kukatakan. Cukup apa kabar.

Tanyakan kabarku sekali saja, bisakah?
Atau mungkin, Apa kabar?
Kalimat sederhana itu mungkin bisa jadi obat terampuh malam ini.
Satu pesan yang aku ingin kamu tahu, aku sakit.
Memang sakit yang biasa, tak separah biasanya.
Tak butuh perhatian ekstra dari seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa.

Dari balik tirai kamar seorang yang bisa kau sebut “kakak”, yang selalu ada saat kau butuh meskipun tak terikat pertalian darah.

sekian,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s