Problematika Budi Pekerti

Problematika Budi Pekerti

“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin.”
..

Benar kata Pram, sapaan Pramoedya Ananta Toer salah satu novelis ternama Indonesia, dalam novelnya yang berjudul Gadis Pantai. Novel yang diterbitkan sekitar tahun 80an itu seakan telah meramalkan hari ini.

Dewasa ini, jarang sekali anak muda yang mengenal budi pekerti. Hal ini ditandai dengan semakin tingginya kasus amoral seperti korupsi, narkoba hingga tawuran yang mengundang keprihatinan. Lantas, siapa yang salah? Siapakah yang harus bertanggung jawab?

Tujuan dari Sistem Pendidikan Indonesia sudah cukup jelas dijabarkan dalam Undang-Undang No 2/89 pada Bab II pasal 4 yaitu, mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Maksud manusia seutuhnya adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berbudi Pekerti luhur. Di samping itu, juga memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani , kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut seharusnya cukup untuk melahirkan generasi yang dilandasi akhlak dan budi pekerti luhur.

Jadi, salahkah sistem pendidikan di Indonesia selama ini? Padahal sejak SD sampai SMA sudah diberikan mata pelajaran PKn, bahkan ada yang sampai jenjang perguruan tinggi masih mendapatkan mata kuliah tersebut.

Bisakah kita menyalahkan globalisasi? Dengan adanya globalisasi sekarang ini, arus informasi dari mancanegara bagai tak terbatas sehingga budaya luar yang negatif mudah terserap tanpa ada filter yang cukup kuat. Banyak gaya hidup modern yang tidak didasari akhlak/budi pekerti dan tidak sesuai dengan budi pekerti bangsa kita sudah banyak ditiru, bahkan menjadi trend dikalangan remaja. Perilaku negatif seperti tawuran contohnya yang sangat jelas menggambarkan bahwa premanisme ada dimana-mana. Emosi meluap-luap, cepat marah dan tersinggung, ingin menang sendiri bahkan sudah menjadi hal yang lumrah. Contoh lainnya lagi adalah pelecehan seksual yang banyak dilakukan oleh anak sekolah di bawah umur yang sudah dianggap biasa di kalangan masyarakat.

Sedih bukan main, kurangnya kesadaran kita sendiri yang menyebabkan rusaknya moral anak bangsa. Padahal, jika generasi kini rusak, bagaimana dengan pemimpin bangsa di masa mendatang. Bagaimana nasib Indonesia? Entah berapa tahun lagi hotel prodeo sanggup menampung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s