Menunggu Palu

Menunggu Palu

Nyaman terlanjur menyelimuti
Terhirup bersama udara segar sore hari
Menunggu habisnya waktu
Yang tak pernah bisa berdamai dengan kenyataan

Bolehkah aku masih berharap?
Ketika detik itu tak lagi berpihak
Bolehkah aku setia menunggu?
Saat sang penguasa bahkan tak mengijinkan
Bolehkah keinginan itu tetap tersimpan?
Meski akal sukar menerimanya

Akulah yang berkuasa melukiskan garis
Dan menunggu-Nya tentukan arah
Menunggu ketok palu keputusan
Sambil terduduk dalam tumpukan keraguan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s