Kesempurnaan Juni

Kesempurnaan Juni

Screenshot_2016-07-01-00-54-23_1467309303626

Hari ini tepat di penutup bulan Juni, kesempatan itu datang lagi. Bertemu denganmu, menyapamu, berbincang denganmu, dan diimami mu. Rindu yang terabaikan akhirnya tersentuh lagi. Hai Adit!

Advertisements
Stressful.

Stressful.

If you wanted me, you would just say so.

Why can’t you hold me in the street?

Why can’t you say something that i’m yours?

Why can’t we act like others?

Why can’t we say that we’re in love?

I wish that it could be like that

“I hate you, i love you

I hate that i love you

Don’t want to but i can’t put

 Nobody else above you”

(I hate u, i love u – Gnash feat Olivia O’Brien)

 

Masih Dipertanyakan

Masih Dipertanyakan

bonjour,

Seseorang pernah mengingatkan ku agar tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu, termasuk mengagumi mu. Awal sederhana yang harusnya kupatuhi agar tak berlanjut ke tingkat selanjutnya, menyukaimu. Mungkin saat jari-jari ini mengetikan rantaian kata, aku sedang dalam perjalanan menuju ke tingkat yang selanjutnya. Atau mungkin saja sebenarnya sudah sampai sambil harap-harap cemas dengan kelanjutannya, aku tak tahu.

Jika kita ulas kembali segala hal menyangkut aku dan kamu, bukan salahku sepenuhnya perasaan itu muncul. Aku tak pernah mengundangnya, demi tuhan tak sekalipun terlintas untuk menyukaimu. “Biarkan seperti air mengalir”, kalimat itu bisa jadi pembelaan yang kusampaikan pada akalku, akal seseorang yang tergolong keras kepala yang akhirnya dibuat bimbang.

Tapi harapan-harapan itu muncul dengan kau sebagai perantaranya. Percakapan yang terkesan hippie, menjorok ke arah dimana tak seharusnya kita berjalan dengan diiringi tingkah laku yang sangat dewasa membuat akalku berani berspekulasi sendiri bahkan mengambil keputusan tanpa bertanya pada keadaan.

Jujur aku tak tahu harus berbuat apa karena itulah postingan ini ku buat. Agar gerakan badan dan akal serta hati berjalan selaras kembali. Aku bingung, galau kalau kata anak muda sekarang. Dilema akan sesuatu yang sebenarnya ku ada-ada kan. Hingga ingin sekali kususun alur cerita aku dan kamu kembali. Mulai dari perkenalan pertama kali, saat mendapat perhatianmu, kegiatan bersama kita hingga ujung dari drama ini. Ingin kutentukan akhir dari drama ini, happy ending ataukah sad ending. Kamu pilih mana? Aku sudah biasa sakit, pilihan apapun tak akan berpengaruh besar untukku.

Tapi sekali lagi kuingatkan, kau telah menanam bibit itu sengaja ataupun tidak itulah kenyataannya. Harapan itu muncul dari tingkah laku kita, bukan sok menghubung-hubungkan. Itulah kenyataannya. Sekarang aku tanya, kita harus apa? Jika diteruskan, mau kah kau bertanggung jawab? Jika berakhir, mungkinkah pertemanan kita masih seperti ini?