Kata untuk jho

Kata untuk jho

Hi Jho!
Lama tak bersua, terakhir di awal tahun inilah kita saling menyapa, berbagi cerita tentang masa berbeda yang saat ini dan akan datang kita hadapi. Kembali lagi bercengkrama menyusun strategi kilat yang selalu jadi wacana. Itulah pertemuan januari kemarin yang kita akhiri dengan foto bersama dengan jas almamater kebanggaan.

Tak terduga, kau yang tak pernah mau foto berdua dengan siapapun akhirnya luluh juga saat itu, begitu pula aku. Mungkin terlalu jauhnya kita dipisahkan membuat kita lupa daratan dan prinsip awal yang kita bangun dulu, yang jauh dulu.

Mencari kenangan antara kita berdua tak ayal seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Sulit sekali. Kita mengenal dan saling ingin tahu dari orang yang sama tanpa saling menegur sapa. Saling memuji tanpa saling mengetahui. Hanya tersenyum kecil dibalik tanda tanya besar setiap berjumpa. Tak spesial kan? Hingga akhirnya waktu memberi luang agar kita benar-benar mengenal di suatu ajang perlombaan.

Aku yang tanpa sengaja diikutsertakan, yang tadinya ingin menyerah kembali menumbuhkan harap saat kau berani menegurku. Sempat malu saat itu, aku siapa ingin menunjukan kebolehanku padamu. Hanya butiran debu yang sengaja hinggap depan matamu, mengganggu. Tapi pertemuan kali itu, pertama kalinya kau memberikan ku semangat. Menghapuskan segala keraguan yang selalu menghantui.

Hari itu tiba, berpisah ke arah yang berbeda berjuang membawa almamater. Aku yang keluar duluan penasaran dengan apa yang kau lakukan diseberang sana memberanikan ku mengintipmu dari belakang kursi penonton, jauh agar kau tak sadar. Tapi keajaiban tiba-tiba datang, wussh. Kau menyapa ku dan bertanya “kan gimana gue? Keren kan tadi?”. Keringat dingin terlanjur bercucuran sehingga aku hanya membalas dengan senyuman kecil. Itu aku, ya aku yang berbeda dari biasanya. Sejujurnya aku ingin berkata kau keren, baru kali ini aku mendengarkan pendapat yang cukup gila dan taukah kau? Itu membuatku semakin kagum padamu! Aku berharap suatu saat nanti kau sempat membaca tulisan ini.

Mulai detik itu, kecanggungan mulai memudar dan akhirnya kita mulai terbiasa. Bertukar pikiran denganmu membuatku sadar pandangan ku akan hidup seperti memakai kaca mata kuda, apatis tak peduli dengan segalanya. Singkatnya egois.

Mulai pertemuan itu, kita semakin sering berjumpa di sekolah. Sengaja ataupun tidak, rutinitas kita saling mencoba untuk berjalan beriringan. Seringnya aku ke perpustakaan tak melihatmu, kini menyesuaikan diri agar dapat melirik lelaki yang duduk di antara lemari dibalik tirai jendela. Itu kita dulu bukan? Yang paling lucu adalah kau tahu dan selalu peduli dengan nilai rapotku tanpa pernah ku beri tahu. Seperti paparazzi, penguntit yang tahu betul gerak-gerikku.

Jho, aku ingin menegurmu lagi sekali ini. Setidaknya kembali membahas wacana masa depan. Mau kah kau membagi waktumu sebentar?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s