Kata untuk jho

Kata untuk jho

Hi Jho!
Lama tak bersua, terakhir di awal tahun inilah kita saling menyapa, berbagi cerita tentang masa berbeda yang saat ini dan akan datang kita hadapi. Kembali lagi bercengkrama menyusun strategi kilat yang selalu jadi wacana. Itulah pertemuan januari kemarin yang kita akhiri dengan foto bersama dengan jas almamater kebanggaan. Read more

Advertisements
Aku Berguna (?)

Aku Berguna (?)

Pernahkah kamu merasa tidak berguna?

Merasa sedikitpun tidak berarti selama di dunia?

Rabu kemarin, aku pergi berkeliling kampusku. Bukan karena mau, tapi terpaksa. Awalnya setengah hati memang, tapi setelah berjalan cukup jauh aku bahagia. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sekedar “jalan-jalan” kali ini. Sayangnya, kami tidak diperbolehkan membawa handphone. Jadi tidak bisa mendokumentasikannya.

Satu hal yang sangat mengganggu selama perjalanan adalah bau tai kambing. Memang rute yang kami lewati adalah kandang-kandang fakultas peternakan, jadi selama perjalanan bau itulah yang setia mendampingi. Bau yang menurut kita mengganggu. Bau yang sangat dihindari banyak orang. Tapi begitu berarti bagi anak peternakan, “bau uang”! Benar, menurut mereka itu bau uang. Jadi terpikir olehku, sungguh bermanfaatnya makhluk ruminansia ini. Sampai-sampai hasil pembuangannya pun bernilai jual tinggi.

Berpikirlagi? Apakah aku seperti itu? Apakah tubuh ini berguna selama di dunia? Apa saja yang pernah aku perbuat hingga orang menganggap aku ada? Bermanfaatkah aku?

Seketika mendapat pencerahan dari salah satu dosen biologi tercinta, Bapak Windra yang merupakan lulusan SITH ITB jurusan yang sempat aku idam-idamkan, dulu.

“Janganlah bersedih hati kalau kalian merasa tidak berguna di dunia ini, karena ketika kalian mati dan diurai oleh dekomposer, kalian menjadi nutrisi bagi tanaman.”

Agak konyol, tapi benar juga.

Setuju pak!

 

sekian,

Ada-ada Saja

Ada-ada Saja

PicsArt_04-23-01.26.49_1461427467560

Entah harus bilang apa lagi, thanks a lot buat tama!

Pagi ini, gue memutuskan balik ke bekasi. Setelah beberapa hari meninggalkan kota seribu mall itu. Sebenarnya kepulangan ini terpaksa karena job memanggil, profesionalism gue tertantang!

Parahnya, saat sampai stasiun pocin keretanya bermasalah. Bingung mau kemana, iseng-iseng kontak tama (re:ex).

“Tam, lu masih di makara?”

“Iya noy, what’s up? Lo balik ya?”

“Yoman, tapi bermasalah nih krlnya”

“Lo dimana emang sekarang noy?”

“Pocin tam, alone plz”

“Mau gue jemput?”

“Nope it’s ok, paling 30mnt”

“Oh yaudah, kalo perlu apa-apa bilang noy”

Hampir sejam-an lebih masih mendekam di pocin.

“Noy udah jalan?”

“Nope..”

“Gue jemput ya?”

“He.. Gausah”

“Gapapa gue otw!”

… ini anak gabut banget pasti

Oke, setelah beberapa menit hampir 30mnt dia gak ada kabar. Kena macet pikir gue, taunya bawain makanan. Debes guy! Ini lah keunggulan lo dibanding cowok lainnya tam, lo selalu tau apa yang gue butuhkan. Makanan!!!

Thank you banget, udah ngegabut nemenin gue nunggu kereta di pocin sampai ngikut ke bekasi! Terus balik lagi ke UI. Bener-bener gabut banget sih anak makara yang satu ini!

Dicariin bunda tuh pulang hey makara, sekian.

Tentang kata “Memendam”

Tentang kata “Memendam”

Teruntuk kata “memendam” yang kau permasalahkan,

Memang benar jika aku memendamnya. Tak salah karena memang perasaan yang kupendam. Tapi kesalahan besar jika kau menganggapnya cinta. Kata “cinta” yang tergolong sakral, tak semudah itu kupercayakan kepadamu. Hanya sampai batas penasaran tepatnya si perasaan. Harapannya tak berkembang lagi. Bukan karena putus asa, bukan pula karena keraguan. Memang jalannya yang tak mengarah kepada cinta.

Cukup sekian pembelaan dari hati, yang sempat tak terima.

Catatan Kecil Pertengahan April

Catatan Kecil Pertengahan April

“No one believes in love at first sight until that special person comes along and steals your heart.”

Menatapmu dari jauh, tepat 4 barisan kursi panjang membuatku tersadar ada yang berbeda. Entah apa namanya, yang jelas sulit jika harus kutuliskan dengan kata-kata. Aku tahu itu bukan cinta, melainkan rasa kagum kepadamu karena diciptakan begitu sempurna oleh-Nya. Berkali-kali keraguan itu muncul, mencoba meyakinkanku itu bukan cinta.

But why do I keep getting butterflies in my stomach when I see you? Tak sanggup bagiku untuk menatap matamu. Namun keinginan untuk menatapmu selalu ada. Semakin kupendam, rasa penasaran itu semakin tumbuh. Setiap hari hanya disibukkan untuk meredam ambisiku tentang pertanyaan akan perasaan itu. Perasaan yang awalnya penasaran belaka menjadi keingintahuan yang berkelanjutan, bahkan sampai membuatku memiliki keinginan.

Keinginan untuk selalu berada didekatmu.
Keinginan untuk melihat warna matamu dari dekat.
Keinginan untuk menyentuh senyum tipismu.
Dan yang paling kutakutkan, Keinginan untuk memilikmu.

Kamu tak pernah masuk dalam kriteriaku. Sungguh sekalipun kamu tak pernah masuk kriteriaku. Bahkan sejak awal bertemu pun kamu tak pernah sedikitpun masuk dalam kriteriaku. Karena kamu bukanlah pria berkacamata, maka sejak awal tak pernah sedetikpun aku melirikmu. Karena sempurnamu, kau tak pernah ada dalam daftar yang masuk kriteriaku. Kesederhanaanmu kah yang membuatku luluh? Hingga tak sampai hati untuk melirikmu.

Sekali lagi perasaan itu mencoba meyakinkanku, “Apa aku mencintaimu?”.

Satu yang pasti,

Kamu selalu menjadi alasan kebahagiaanku yang tak bisa dijelaskan, kamu juga menjadi alasan kesedihanku yang tak bisa kujelaskan.”

Aku tak mau menjawab pertanyaan itu. Biarkan pertanyaan itu terpendam dan akhirnya menghilang. Ketakutanku akan dirimu adalah kamu menemukan yang lainnya, dan aku menjadi pihak yang kamu lupakan atau bahkan terlupakan.