Menunggu Palu

Menunggu Palu

Nyaman terlanjur menyelimuti
Terhirup bersama udara segar sore hari
Menunggu habisnya waktu
Yang tak pernah bisa berdamai dengan kenyataan

Bolehkah aku masih berharap?
Ketika detik itu tak lagi berpihak
Bolehkah aku setia menunggu?
Saat sang penguasa bahkan tak mengijinkan
Bolehkah keinginan itu tetap tersimpan?
Meski akal sukar menerimanya

Akulah yang berkuasa melukiskan garis
Dan menunggu-Nya tentukan arah
Menunggu ketok palu keputusan
Sambil terduduk dalam tumpukan keraguan

Rutinitas Harian

Rutinitas Harian

Teruntuk dua puluh lima persen di pojok hati,

Tak ku sangkal akan rinduku
Tak terabaikan segala tingkah lakumu
Sekalipun ratusan kali kubiarkan kau mati
Tetap saja penasaran ini tak dapat pergi

Bukan maksud bersembunyi dalam bayangan
Mengikuti kemanapun langkahmu berpijak
Bukan juga memendam rasa secara sepihak
Hanya saja kau sudah menjadi bagian dalam rutinitas harian