Hujan Butuh Pelangi

Hujan Butuh Pelangi

Pelangi, apa kabarmu?
Baru kemarin rasanya kita bertemu, saling berbagi kabar dan bercanda berdua dan tampaknya kau terlihat baik-baik saja. Lantas kenapa dengan hari ini?
Terdengar kabar kau jatuh sakit. Tidak parah tapi cukup mengkhawatirkan. Demam berdarah katanya. Apa kau baik-baik saja?
Maaf aku telat mendengar kabarmu.
Terima kasih telah membuatku menjadi orang pertama yang mengetahui kondisimu. Tapi maaf kanoy bukan orang pertama yang menjengukmu ya, tunggu 2 hari lagi, bisa kan?

Ingatlah, hujan selalu butuh pelangi untuk memperindah langit.
Kita diciptakan sepasang, tapi bukan untuk berjalan beriringan. Tapo dimana ada hujan, pelangi selalu siap disampingku bukan? Langit membutuhkanmu, pelangi!

Hujan pun begitu sepertinya(?)

Get well (really) soon!!!

Perjalanan Hujan

Perjalanan Hujan

Setelah hujan, pelangi datang

Sempatkan diri kunjungi rumah kecil nan jauh dipelupuk mata

Tanpa tujuan, hingga akhirnya ditinggalkan

Lelah menanti kepastian yang tiada pasti

Kabut datang, gantikan keberadaannya

Berkunjung ke dalam rumah kecil yang tiada bertuan

Bertamu layaknya sang pemilik

Lantas pergi setelah cukup dengan segala perjamuannya

Hujan kembali turun tanpa tahu kapan harus berhenti

Berjuang melawan angin yang bertiup

Berusaha menghapus keberadaan sang kabut

Sampai akhirnya lelah menunggu waktu

Hingga matahari kembali bersinar lagi

Dengan cahayanya ceria menyambut tanah basah

Dengan hangatnya membunuh memori hujan

Sampai buket bunga lili layu dihiraukannya

Image

Pelangi di Bulan April

images

Sempat tak terlihat sepanjang mata memandang.

Sempat tak terdengar berita akan keberadaanmu.

Sempat terabaikan oleh hiruk pikuknya dunia.

Sempat sedetikpun tak pernah ada kata kita. Tidak lagi sekelebat bayangmu muncul dalam mimpi. Tidak pernah ada kata pisah yang terucap, semua mengalir mengikuti kemana angin membawanya pergi. Berjalan beriringan dengan waktu. Sungguh kenangan itu seperti menghilang ditelan bumi.

Tapi masih tersimpan dalam diam. Segala tingkahmu yang menggelitik. Wajahmu pun tetap tergambar jelas. Bahkan suara tawamu masih terngiang di telingaku.


Mengapa tak semudah yang lainnya?

Mengapa memori itu masih tetap tersimpan utuh dalam diam?

Bahkan sampai berani muncul kembali saat aku mencoba memanggilnya?


Jawabannya satu, singkat dan padat.

Cinta.

Berani apa aku menyebutnya cinta?

Usia yang belum genap seperlima abad ini masih kurang untuk jadi bahan pertimbangan.

Yang jelas, Kau adalah kumpulan-kumpulan luka yang paling aku cinta. Pembenaran dalam hidup sebagian kuterima dari kesalahan kita. Kau tak terganti. Sejauh apapun langkah itu membawamu pergi, sekeras apapun kita mencoba berhenti, akan selalu kembali. Kau selalu punya tempat khususmu sendiri. Indah dan tak lekang oleh zaman. Sampai lelah mengusik jiwa dan merasa cukup dengan masa pencarian kita. Kau akan kembali lagi. Akan ada masa dimana kembali menyebut kata “kita”. Saat dimana cinta bukan datang untuk mencoba karena langkah sudah sampai pada tujuannya, dan memilih tinggal selamanya.

Seperti hari ini, kau kembali secara tiba-tiba. Muncul dalam kegelapan malam dan menerangi mendungnya hati ini. Aku tersadar dan tak berharap banyak. Kita masih sama muda, masih sama-sama mencari. Saling berdoa agar takdir memberi celah kita bersama sampai saatnya nanti.

Terima kasih atas kedatanganmu kali ini, yang setidaknya memberi warna lagi. Kau datang disaat yang tepat, saat kegundahan itu hinggap. Saat aku dihadapkan dengan beribu masalah yang entah tiada berujung. Ketika yang lain hadir coba mengusik tempat khususmu itu, kau muncul lagi.

Terima kasih untuk kau yang berulang tahun di bulan ini, pelangi.

Surat Untuk Pelangi

Surat Untuk Pelangi

images

Teruntuk Pelangi,

Pelangi, pernahkah kamu melihat wujudmu?

Membayangkan betapa elok tubuhmu?

Semua orang yang melihatmu pasti cemburu, dan ingin memilikimu, termasuk aku. Ingin sekali ku gapai dirimu, ku simpan dalam botol kaca, dan ku jadikan hiasan kamar. Pasti kamarku akan menjadi indah.

Pelangi, tak bisakah aku memilikimu?

Pernah suatu ketika aku berada di permadani rumput dan mencoba mengejarmu. Semakin kau ku dekati, semakin jauh menghilang pergi. Seakan-akan membenciku.

Pelangi, kamu indah tapi fana. Dalam diamlah aku bisa menikmatimu.

Pelangi, aku bukan siapa-siapa bagimu. Bukan dia “sang pengatur kehidupan” yang membuat mu ada dan memusnahkanmu.

Dalam doa malam yang terpanjat, selalu terselip dirimu. Semoga kita bersama suatu saat nanti.