Rumah Asing

Rumah Asing

Bukan hal baru bagiku masuk ke dalamnya. Untuk sekedar berkunjung untuk melepas penat dan bertamu demi sapaan hangat. Esok harinya datang lagi. Masih berkunjung untuk melepas penat dan bertemu demi sapaan hangat. Terus berulang setiap hari. Hingga datang ke rumah itu menjadi bagian hidupku, rutinitas yang tiada pernah terlewatkan.

Tapi, suatu hari aku merasakan hal yang berbeda. Tiada lagi hasrat untuk mengunjunginya. Bahkan sekedar sapa pun tak mampu lagi ku lakukan. Entah mengapa, hanya saja hatiku berkata tidak. Rasanya tak lagi seirama. Rumah itu bukan rumahku yang dulu.

Asing bukan rumahku. Bukan lagi jadi tempat yang biasa kupijaki. Bukan lagi tempat singgah pelipur lara. Bukan pula tempat berbagi cerita. Asing bukan main perasaanku. Sapaannya kini tak sehangat mentari. Hiburannya juga tak lagi tentramkan jiwa dan hawanya pun sudah sedingin kutub utara. Meskipun aku berada di dalamnya. Hatiku berada di luar sana. Entah berpetulang mencari tempat berlabuh lainnya.

Mungkin sudah waktunya untuk pindah. Mencari lagi lingkungan hangat yang ku rindukan. Menemukan tempat yang selaras dengan jiwa dan mampu mendengar segala keluh kesah ini.

Tulisan ini ku ketik agar kau tahu, rumah itu tak lagi sama. Mungkinkah roh jahat telah menguasainya? Atau sekedar rasa tak ingin memiliki lagi? Kuharap kita sama-sama tahu jawabannya dan saling memahami mengapa akhirnya rumah itu tak lagi sempat aku kunjungi.

Advertisements
Menunggu Palu

Menunggu Palu

Nyaman terlanjur menyelimuti
Terhirup bersama udara segar sore hari
Menunggu habisnya waktu
Yang tak pernah bisa berdamai dengan kenyataan

Bolehkah aku masih berharap?
Ketika detik itu tak lagi berpihak
Bolehkah aku setia menunggu?
Saat sang penguasa bahkan tak mengijinkan
Bolehkah keinginan itu tetap tersimpan?
Meski akal sukar menerimanya

Akulah yang berkuasa melukiskan garis
Dan menunggu-Nya tentukan arah
Menunggu ketok palu keputusan
Sambil terduduk dalam tumpukan keraguan

Problematika Budi Pekerti

Problematika Budi Pekerti

“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin.”
..

Benar kata Pram, sapaan Pramoedya Ananta Toer salah satu novelis ternama Indonesia, dalam novelnya yang berjudul Gadis Pantai. Novel yang diterbitkan sekitar tahun 80an itu seakan telah meramalkan hari ini.

Dewasa ini, jarang sekali anak muda yang mengenal budi pekerti. Hal ini ditandai dengan semakin tingginya kasus amoral seperti korupsi, narkoba hingga tawuran yang mengundang keprihatinan. Lantas, siapa yang salah? Siapakah yang harus bertanggung jawab?

Tujuan dari Sistem Pendidikan Indonesia sudah cukup jelas dijabarkan dalam Undang-Undang No 2/89 pada Bab II pasal 4 yaitu, mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Maksud manusia seutuhnya adalah manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berbudi Pekerti luhur. Di samping itu, juga memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani , kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut seharusnya cukup untuk melahirkan generasi yang dilandasi akhlak dan budi pekerti luhur.

Jadi, salahkah sistem pendidikan di Indonesia selama ini? Padahal sejak SD sampai SMA sudah diberikan mata pelajaran PKn, bahkan ada yang sampai jenjang perguruan tinggi masih mendapatkan mata kuliah tersebut.

Bisakah kita menyalahkan globalisasi? Dengan adanya globalisasi sekarang ini, arus informasi dari mancanegara bagai tak terbatas sehingga budaya luar yang negatif mudah terserap tanpa ada filter yang cukup kuat. Banyak gaya hidup modern yang tidak didasari akhlak/budi pekerti dan tidak sesuai dengan budi pekerti bangsa kita sudah banyak ditiru, bahkan menjadi trend dikalangan remaja. Perilaku negatif seperti tawuran contohnya yang sangat jelas menggambarkan bahwa premanisme ada dimana-mana. Emosi meluap-luap, cepat marah dan tersinggung, ingin menang sendiri bahkan sudah menjadi hal yang lumrah. Contoh lainnya lagi adalah pelecehan seksual yang banyak dilakukan oleh anak sekolah di bawah umur yang sudah dianggap biasa di kalangan masyarakat.

Sedih bukan main, kurangnya kesadaran kita sendiri yang menyebabkan rusaknya moral anak bangsa. Padahal, jika generasi kini rusak, bagaimana dengan pemimpin bangsa di masa mendatang. Bagaimana nasib Indonesia? Entah berapa tahun lagi hotel prodeo sanggup menampung.