Image

Damn it’s true!

IMG_20160805_225334

Advertisements
Celoteh 30 menit

Celoteh 30 menit

Teruntuk dua-puluh-lima persen hatiku,

PicsArt_07-07-03.01.25.jpg

Tepat pukul 2 pagi ini, aku menulis lagi. Dengan tema serupa seperti biasanya, rindu tertahan untukmu. Entah sampai kapan tema ini akan berganti, aku belum bosan sama sekali. Rutinitas ku masih seputar dirimu. Entah apapun itu pasti tak jauh-jauh darimu. Semuanya benar-benar tentang kamu, dua-puluh-lima persen hatiku.

Jujur sampai saat ini aku menanti hadirmu dengan setengah cemas dan setengah bahagia. Aku cemas jikalau kamu hadir dengan perangai yang berbeda. Tapi aku bahagia setidaknya tenggang waktu ku menunggu mu segera berakhir, sehingga tanpa sengaja senyum bodoh itu terukir di wajahku.

Inilah resiko mencintai dalam diam. Dikala rindu tak mampu ku sampaikan. Dikala kesal hanya mampu ku pendam. Dikala sakit harus ku tanggung sendiri. Itulah konsekuensi nya dan aku harus terbiasa. Menerima segalanya dengan hati yang ikhlas.

“Jika tak sanggup, maka ungkapkan saja!”

Stressful.

Stressful.

If you wanted me, you would just say so.

Why can’t you hold me in the street?

Why can’t you say something that i’m yours?

Why can’t we act like others?

Why can’t we say that we’re in love?

I wish that it could be like that

“I hate you, i love you

I hate that i love you

Don’t want to but i can’t put

 Nobody else above you”

(I hate u, i love u – Gnash feat Olivia O’Brien)

 

Masih Dipertanyakan

Masih Dipertanyakan

bonjour,

Seseorang pernah mengingatkan ku agar tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu, termasuk mengagumi mu. Awal sederhana yang harusnya kupatuhi agar tak berlanjut ke tingkat selanjutnya, menyukaimu. Mungkin saat jari-jari ini mengetikan rantaian kata, aku sedang dalam perjalanan menuju ke tingkat yang selanjutnya. Atau mungkin saja sebenarnya sudah sampai sambil harap-harap cemas dengan kelanjutannya, aku tak tahu.

Jika kita ulas kembali segala hal menyangkut aku dan kamu, bukan salahku sepenuhnya perasaan itu muncul. Aku tak pernah mengundangnya, demi tuhan tak sekalipun terlintas untuk menyukaimu. “Biarkan seperti air mengalir”, kalimat itu bisa jadi pembelaan yang kusampaikan pada akalku, akal seseorang yang tergolong keras kepala yang akhirnya dibuat bimbang.

Tapi harapan-harapan itu muncul dengan kau sebagai perantaranya. Percakapan yang terkesan hippie, menjorok ke arah dimana tak seharusnya kita berjalan dengan diiringi tingkah laku yang sangat dewasa membuat akalku berani berspekulasi sendiri bahkan mengambil keputusan tanpa bertanya pada keadaan.

Jujur aku tak tahu harus berbuat apa karena itulah postingan ini ku buat. Agar gerakan badan dan akal serta hati berjalan selaras kembali. Aku bingung, galau kalau kata anak muda sekarang. Dilema akan sesuatu yang sebenarnya ku ada-ada kan. Hingga ingin sekali kususun alur cerita aku dan kamu kembali. Mulai dari perkenalan pertama kali, saat mendapat perhatianmu, kegiatan bersama kita hingga ujung dari drama ini. Ingin kutentukan akhir dari drama ini, happy ending ataukah sad ending. Kamu pilih mana? Aku sudah biasa sakit, pilihan apapun tak akan berpengaruh besar untukku.

Tapi sekali lagi kuingatkan, kau telah menanam bibit itu sengaja ataupun tidak itulah kenyataannya. Harapan itu muncul dari tingkah laku kita, bukan sok menghubung-hubungkan. Itulah kenyataannya. Sekarang aku tanya, kita harus apa? Jika diteruskan, mau kah kau bertanggung jawab? Jika berakhir, mungkinkah pertemanan kita masih seperti ini?

Rumah Asing

Rumah Asing

Bukan hal baru bagiku masuk ke dalamnya. Untuk sekedar berkunjung untuk melepas penat dan bertamu demi sapaan hangat. Esok harinya datang lagi. Masih berkunjung untuk melepas penat dan bertemu demi sapaan hangat. Terus berulang setiap hari. Hingga datang ke rumah itu menjadi bagian hidupku, rutinitas yang tiada pernah terlewatkan.

Tapi, suatu hari aku merasakan hal yang berbeda. Tiada lagi hasrat untuk mengunjunginya. Bahkan sekedar sapa pun tak mampu lagi ku lakukan. Entah mengapa, hanya saja hatiku berkata tidak. Rasanya tak lagi seirama. Rumah itu bukan rumahku yang dulu.

Asing bukan rumahku. Bukan lagi jadi tempat yang biasa kupijaki. Bukan lagi tempat singgah pelipur lara. Bukan pula tempat berbagi cerita. Asing bukan main perasaanku. Sapaannya kini tak sehangat mentari. Hiburannya juga tak lagi tentramkan jiwa dan hawanya pun sudah sedingin kutub utara. Meskipun aku berada di dalamnya. Hatiku berada di luar sana. Entah berpetulang mencari tempat berlabuh lainnya.

Mungkin sudah waktunya untuk pindah. Mencari lagi lingkungan hangat yang ku rindukan. Menemukan tempat yang selaras dengan jiwa dan mampu mendengar segala keluh kesah ini.

Tulisan ini ku ketik agar kau tahu, rumah itu tak lagi sama. Mungkinkah roh jahat telah menguasainya? Atau sekedar rasa tak ingin memiliki lagi? Kuharap kita sama-sama tahu jawabannya dan saling memahami mengapa akhirnya rumah itu tak lagi sempat aku kunjungi.