Rutinitas Harian

Rutinitas Harian

Teruntuk dua puluh lima persen di pojok hati,

Tak ku sangkal akan rinduku
Tak terabaikan segala tingkah lakumu
Sekalipun ratusan kali kubiarkan kau mati
Tetap saja penasaran ini tak dapat pergi

Bukan maksud bersembunyi dalam bayangan
Mengikuti kemanapun langkahmu berpijak
Bukan juga memendam rasa secara sepihak
Hanya saja kau sudah menjadi bagian dalam rutinitas harian

Sekali Saja.

Sekali Saja.

Bolehkah aku menghubungimu lagi?
Bolehkah aku tetap menyapamu seperti dulu?
Bolehkah perhatian itu ada lagi?

Hujan malam ini berbeda.
Nyanyian alam ini seketika membuatku tersadar. Inikah air mata yang selama ini terpendam entah kemana? Tertutup oleh banyak bunga plastik yang kian rimbun, tapi fiktif belaka.

Dingin kali ini berbeda.
Tidak seperti bulan-bulan sebelumnya yang tetap diselimuti kehangatanmu. Malam ini, tiada kabar yang tertiup angin. Haruskah aku terbiasa? Atau tetap bertanya dan berharap?

Hanya satu pesan yang ku tunggu dan satu pesan yang ku ingin kamu tahu. Bukan kata rindu layaknya remaja yang dimabuk cinta. Bukan juga kalimat “i love you”, yang dulu sempat ingin kukatakan. Cukup apa kabar.

Tanyakan kabarku sekali saja, bisakah?
Atau mungkin, Apa kabar?
Kalimat sederhana itu mungkin bisa jadi obat terampuh malam ini.
Satu pesan yang aku ingin kamu tahu, aku sakit.
Memang sakit yang biasa, tak separah biasanya.
Tak butuh perhatian ekstra dari seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa.

Dari balik tirai kamar seorang yang bisa kau sebut “kakak”, yang selalu ada saat kau butuh meskipun tak terikat pertalian darah.

sekian,

Image

Pelangi di Bulan April

images

Sempat tak terlihat sepanjang mata memandang.

Sempat tak terdengar berita akan keberadaanmu.

Sempat terabaikan oleh hiruk pikuknya dunia.

Sempat sedetikpun tak pernah ada kata kita. Tidak lagi sekelebat bayangmu muncul dalam mimpi. Tidak pernah ada kata pisah yang terucap, semua mengalir mengikuti kemana angin membawanya pergi. Berjalan beriringan dengan waktu. Sungguh kenangan itu seperti menghilang ditelan bumi.

Tapi masih tersimpan dalam diam. Segala tingkahmu yang menggelitik. Wajahmu pun tetap tergambar jelas. Bahkan suara tawamu masih terngiang di telingaku.


Mengapa tak semudah yang lainnya?

Mengapa memori itu masih tetap tersimpan utuh dalam diam?

Bahkan sampai berani muncul kembali saat aku mencoba memanggilnya?


Jawabannya satu, singkat dan padat.

Cinta.

Berani apa aku menyebutnya cinta?

Usia yang belum genap seperlima abad ini masih kurang untuk jadi bahan pertimbangan.

Yang jelas, Kau adalah kumpulan-kumpulan luka yang paling aku cinta. Pembenaran dalam hidup sebagian kuterima dari kesalahan kita. Kau tak terganti. Sejauh apapun langkah itu membawamu pergi, sekeras apapun kita mencoba berhenti, akan selalu kembali. Kau selalu punya tempat khususmu sendiri. Indah dan tak lekang oleh zaman. Sampai lelah mengusik jiwa dan merasa cukup dengan masa pencarian kita. Kau akan kembali lagi. Akan ada masa dimana kembali menyebut kata “kita”. Saat dimana cinta bukan datang untuk mencoba karena langkah sudah sampai pada tujuannya, dan memilih tinggal selamanya.

Seperti hari ini, kau kembali secara tiba-tiba. Muncul dalam kegelapan malam dan menerangi mendungnya hati ini. Aku tersadar dan tak berharap banyak. Kita masih sama muda, masih sama-sama mencari. Saling berdoa agar takdir memberi celah kita bersama sampai saatnya nanti.

Terima kasih atas kedatanganmu kali ini, yang setidaknya memberi warna lagi. Kau datang disaat yang tepat, saat kegundahan itu hinggap. Saat aku dihadapkan dengan beribu masalah yang entah tiada berujung. Ketika yang lain hadir coba mengusik tempat khususmu itu, kau muncul lagi.

Terima kasih untuk kau yang berulang tahun di bulan ini, pelangi.

Surat Untuk Pelangi

Surat Untuk Pelangi

images

Teruntuk Pelangi,

Pelangi, pernahkah kamu melihat wujudmu?

Membayangkan betapa elok tubuhmu?

Semua orang yang melihatmu pasti cemburu, dan ingin memilikimu, termasuk aku. Ingin sekali ku gapai dirimu, ku simpan dalam botol kaca, dan ku jadikan hiasan kamar. Pasti kamarku akan menjadi indah.

Pelangi, tak bisakah aku memilikimu?

Pernah suatu ketika aku berada di permadani rumput dan mencoba mengejarmu. Semakin kau ku dekati, semakin jauh menghilang pergi. Seakan-akan membenciku.

Pelangi, kamu indah tapi fana. Dalam diamlah aku bisa menikmatimu.

Pelangi, aku bukan siapa-siapa bagimu. Bukan dia “sang pengatur kehidupan” yang membuat mu ada dan memusnahkanmu.

Dalam doa malam yang terpanjat, selalu terselip dirimu. Semoga kita bersama suatu saat nanti.